PERAN NAPOSO BULUNG HKBP
Posted by Hkbp
Jumat, 22 November 2013
0
komentar
Peran Naposo Bulung HKBP
1. Pendahuluan
Sesuai dengan Aturan Peraturan HKBP tahun 2002 (2.5.a hl.118)
yang disebut dengan seksi Pemuda (naposobulung) adalah persekutuan semua
pemuda jemaat, laki-laki dan perempuan, yang berusia di atas usia
remaja (di atas usia 18 tahun; remaja 12 – 18 tahun) dan belum menikah,
serta terdaftar sebagai warga jemaat. “Bungabunga ni Huria”, demikianlah
sebutan yang sering kita dengar di tengah-tengah Gereja Huria Kristen
Batak Protestan untuk menyebut Naposobulung (pemuda). Sebutan ini
tentunya tidak lahir begitu saja dan hanya sebutan kosong; dengan
sebutan pemuda sebagai “bunga-bunga ni huria” di dalamnya terkandung
harapan dari kehidupan dan kehadiran naposobulung ditengah-tengah jemaat
akan tercipta persekutuan yang indah dan menarik yang keharumannya
dapat dirasakan dan dinikmati orang-orang di sekelilingnya. Tentu hal
tersebut hanya dapat terjadi ketika naposobulung memahami makna dan arti
kehadirannya di tengah-tengah jemaat. Sebagai “bunga-bunga ni huria”
pemuda juga terpanggil dan diutus untuk berperan serta dalam setiap
pelayanan di tengah-tengah jemaat. Menjadi pemuda yang partisipatif,
kreatif dan inovatif di tengah-tengah jemaat, bukan pemuda yang harus
selalu dilayani atau menuntut pelayanan dari orang-orang di sekitarnya
(gereja). Pemuda dengan semua potensi yang dimilikinya merupakan aset
berharga yang dimiliki gereja, masyarakat dan negara. Tidaklah
berlebihan jika pemuda disebut juga sebagai tiang gereja, masyarakat dan
negara; dimana sejarah kebangkitan nasional, dunia, alkitab dan gereja
telah membuktikan bagaimana peranan para pemuda yang sangat vital dan
bertenaga dalam menyuarakan dan menciptakan perubahan. Sudah saatnya
pemuda HKBP bergerak dan menjadi subjek pelayanan, tidak lagi bersifat
menunggu dan pasif dalam pelayanan gereja dan masyarakat; pemuda gereja
harus menjadi berkat bagi banyak orang.
2. Gereja Sebagai Tubuh Kristus
Terang dan Garam Dunia Gereja (persekutuan orang-orang
percaya) sebagai Tubuh Kristus di dunia ini adalah orang-orang yang
terpanggil dari kegelapan kepada terang yang ajaib di dalam Yesus
Kristus. Pemanggilan Allah kepada orang-orang percaya adalah panggilan
yang bermuatan tanggungjawab dimana orang-orang percaya terpanggil untuk
memberitakan perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan kepada
dunia ini. Dalam rangka tugas panggilan tersebut di tengah-tengah gereja
dirumuskan Tri Tugas Panggilan Gereja, yaitu: Persekutuan (Koinonia),
Kesaksian (Marturia) dan Pelayanan (Diakonia). Ketiga tugas panggilan
gereja ini melekat di dalam diri orang-orang percaya, dalam hal ini
termasuk naposobulung. Untuk melaksanakan tiga tugas panggilan gereja
tersebut, kepada orang-orang percaya diberikan karunia-karunia atau
talenta sesuai dengan pemberian Roh. Semua karunia atau talenta tersebut
sama pentingnya, tidak ada satupun diantara karunia itu lebih penting
dan lebih utama dari yang lainnya, tetapi semuanya sama-sama penting
dalam rangka pembangunan Tubuh Kristus, yaitu jemaat. Dengan karunia
atau talenta yang dimilikinya, gereja dan orang-orang percaya memainkan
peranannya menjadi terang dan garam di tengah-tengah dunia ini.
Kehadiran gereja dan orang-orang percaya harus membawa perobahan ke arah
yang lebih baik, mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi lingkungan
sekitarnya, membawa damai sejahtera dan sukacita serta memberikan
alternatif kehidupan yang lebih baik kepada orang-orang yang Tuhan
tempatkan disekitarnya. Seperti apakah peranan pemuda (naposobulung) di
dalam tri tugas panggilan gereja tersebut? Seperti telah disebutkan di
atas bahwa pemuda adalah generasi penerus gereja, tiang gereja dan
bungabunga ni huria mempunyai peranan yang sangat penting sehingga tri
tugas panggilan gereja tersebut dalam berjalan secara baik dan maksimal.
3. Pemuda Dan Persekutuan
Menjadi Teladan
Bagi Generasi di Bawahnya Salah satu dari tri tugas panggilan gereja
adalah Koinonia (bersekutu), di gereja HKBP dikenal seksi sekolah
minggu, remaja, pemuda, wanita, bapak dan lanjut usia. Di dalam
persekutuan inilah terkumpul potensi-potensi yang dimiliki anggota
jemaat. Persekutuan sangat menentukan dapat tidaknya pelayanan berjalan
dengan baik. Hanya dengan terciptanya persekutuan yang baik maka akan
tercipta kerjasama yang baik menyatukan potensi-potensi yang dimiliki
untuk mewujudkan tugas panggilan gereja. Oleh sebab itu, dalam hal
pemuda memperan serta dalam pelayanan maka harus diciptakan dahulu
persekutuan yang baik di tengah-tengah pemuda gereja sehingga
persekutuan tersebut menarik bagi orang lain untuk terlibat di dalamnya.
Tidak ada ruang untuk mengembangkan kelompok-kelompok yang dianggap
penting sedang yang lain hanya penggembira saja, sebab hal yang demikian
dapat menimbulkan perpecahan dan pelayanan tidak dapat berjalan dengan
baik. Selain itu, pemuda dalam persekutuannya harus terbuka terhadap
kategorial yang lainnnya khususnya kepada kategorial sekolah minggu dan
remaja. Pemuda harus menjadi teladan bagi adek-adeknya sekolah minggu
dan remaja, bahkan pemuda hendaknya terlibat dalam pelayanan dan
pembinaan rohani bagi mereka (menjadi partner kerja majelis), misalnya
menjadi guru sekolah minggu atau terlibat dalam pelaksanaan
kebaktian-kebaktian atau penelahaan alkitab. Dengan keterlibatan pemuda
dalam pelayanan di kategorial sekolah minggu dan remaja (secara khusus
kategorial remaja) diharapkan regenerasi persekutuan pemuda dapat
berjalan dengan baik. Anak remaja tidak gamang memasuki wilayah pemuda
karena dia sedikit banyak sudah mengenalnya. Sebab sering terjadi di
tengah-tengah gereja ada masa-masa di mana anggota persekutuan pemuda
secara kuantitas sedikit, sedang gereja sudah menamatkan 2 sampai 3 kali
pelajar katekhisasi sidi. Kenapa? Karena remaja tadi tidak
diperkenalkan lebih dahulu persekutuan pemuda, dia masuk ke persekutuan
remaja risih sedang masuk ke persekutuan pemuda ragu-ragu. Untuk
mengatasi hal tersebut pemuda harus proaktif memperkenalkan persekutuan
pemuda, sehingga remaja-remaja pada waktunya dengan keinginan dan
kerinduannya mau melibatkan diri ke dalam persekutuan pemuda; maka
terciptalah persekutuan pemuda yang berkesinambungan di tengah-tengah
gereja.
4. Pemuda Dan Kesaksian
Boan Sadanari
(bawa satu orang lagi) Saat ini yang sering dikeluhkan dan
dipergumulkan di tengah-tengah gereja HKBP adalah semakin banyaknya
generasi muda yang meninggalkan HKBP dan bergereja serta aktif di gereja
lain, khususnya aliran kharismatik (sering disebut eksodus atau jajan
rohani karena kewargaanya tetap terdaftar di HKBP atau ikut orangtua).
Alasan yang sering kita dengar sehingga banyak warga HKBP khususnya
pemuda jajan rohani atau eksodus adalah ibadah di HKBP monoton dan
pelayanannya tidak menyentuh jemaat. Dibeberapa gereja HKBP, khususnya
di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, sudah dilakukan ibadah
alternatif atau ibadah khusus, dimana dalam ibadah dipakai alat musik
yang lebih bersemangat dan dalam ibadah melibatkan jemaat (partisipasi
jemaat) sehingga ibadah lebih hidup dan menarik. Dengan ibadah ini
diharapkan pemuda gereja kembali lagi beribadah di HKBP. Apakah benar
demikian? Mungkin benar tetapi tidak sepenuhnya demikian. Tahun 2008 ini
telah di tetapkan HKBP menjadi tahun Marturia (kesaksian) dengan motto:
BOAN SADANARI. Di tahun marturia ini, pemuda HKBP hendaknya mengambil
peran serta untuk menggalakkan tahun marturia dengan mamboan sadanari
(membawa satu orang) pemuda HKBP yang sudah meninggalkan HKBP atau tidak
aktif lagi di HKBP kembali ke HKBP. Dalam membawa satu orang lagi tentu
pemuda ditengah-tengah persekutuannya harus menciptakan
kegiatan-kegiatan yang lebih menarik. Membentuk wadah-wadah yang dapat
mengakomodir talenta-talenta pemuda yang selama ini terpendam untuk
disalurkan dalam pelayanan di tengah-tengah gereja, misalnya bermain
musik, olahraga, menulis cerita/puisi dan lain-lain. Mereka (pemuda)
juga dapat dilibatkan di dalam seksi-seksi yang ada di Dewan Marturia di
seksi sending dan musik. Artinya pemuda lebih menunjukkan
partisipasinya dan keterlibatannya dalam pelayanan sehingga, dia tidak
hanya terlibat dalam seksinya saja. Dalam hal ini, diharapkan majelis
harus mau membuka ruang bagi partisipasi dan keterlibatan pemuda dalam
pelayanan dan membuka pintu untuk pembaharuan yang diinginkan pemuda
tanpa harus meninggalkan warna atau ciri khas HKBP dan memperhatikan
aturan dan konfessi HKBP.
5. Pemuda Dan Pelayanan
turut serta dalam kegiatan sosial Dalam hal kegiatan sosial,
sangat banyak yang dapat dilakukan pemuda. Kegiatan-kegiatan yang
langsung menyentuh kebutuhan jemaat, khususnya jemaat yang kurang mampu.
Pemuda dapat membuka pelatihan-pelatihan di gereja, membuka
kursus-kursus sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki dan berguna
untuk mencerdaskan jemaat; sebab tidak semua jemaat dapat membiayai
anaknya mengikuti kursus-kursus yang memang membutuhkan biaya yang tidak
sedikit. Pada musim ujian akhir (ujian akhir nasional) pemuda dapat
juga memberikan bimbingan kepada anak-anak anggota jemaat yang akan
mengikuti ujian nasional tersebut. Pemuda harus berperan aktif
menciptakan dan membuat gereja menjadi pusat pembelajaran dan pembinaan,
sebab pemuda memiliki potensi untuk melakukan hal tersebut. Pemuda juga
harus memiliki keprihatinan terhadap tingginya tingkat pengangguran
saat ini. Pengangguran yang mengakibatkan semakin banyaknya orang yang
miskin, putus asa, dan meningkat pula perbuatan-perbuatan kriminalitas
di tengah-tengah masyarakat. Dalam mencermati keadaan ini, pemuda dapat
juga berperan membuka jaringan-jaringan kepada perusahaan, instansi atau
lembaga tertentu dalam hal informasi mengenai lowongan pekerjaan bagi
warga jemaat. Tentu masih banyak lagi pelayanan-pelayanan yang
berhubungan dengan sosial yang dapat dilakukan pemuda gereja, misalnya
mengunjungi orang sakit anggota jemaat (membentuk tim doa), turut serta
dalam kegiatan penghiburan, bahkan membuka pemuda dapat melakukan
pengobatan dan pembinaan-pembinaan tentang kesehatan masyarakat, paling
sedikit memfasilitasinya.
6. Penutup Masa muda bukanlah
menjadi penghalang bagi kita untuk turut serta dalam pelayanan, memikul
tanggungjawab untuk melakukan tri tugas panggilan orang-orang percaya,
yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani. Rasul Paulus mengatakan “jangan
seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda…” (1 Tim. 4: 12).
Masa muda adalah masa yang indah untuk melayani, waktu untuk berkarya
dan berbuah bagi Tuhan. Tunjukkanlah bahwa kamu pun bisa dan mempunyai
kapasitas untuk di andalkan dalam pelayanan di tengah-tengah gereja dan
masyarakat. Kehadiranmu di gereja bukan untuk dilayani tetapi untuk
melayani, pelayananmu tidak identik hanya paduan suara (koor) belaka,
diluar itu masih banyak yang dapat kamu lakukan dan persembahkan untuk
Tuhan. Melayani itulah yang diinginkan Tuhan darimu pada masa mudamu
ini. SELAMAT BERKARYA DAN MELAYANI.



